DEKONSTRUKSI PEMIKIRAN AL GHOZALI TENTANG HIRARKI PENGETAHUAN

Oleh : Pamela Maher Wijaya, S.Sos.I., M.S.I

            Abu Hamid Muhammad al-Ghazali berpartisipasi dalam kehidupan politik-keagamaan pada tahun – tahun terakhir pemerintah nizam dan kemudian menjadi sosok sentral. Ia mendefinisikan filsafat Islam dengan cara yang personal namun otoritatif, yang berkaitan erat dengan kebutuhan pada masa itu. Tidak lama stelah kematian ayahnya, al-Ghazali mempelajari fikih al-Syafi’I di Nisapur (1080 – 1085) di bawah bimbingan al-Juwaini. Kemampuannya yang luar biasa menarik perhatian Nizam al-Mulk, yang kemudian memanggilnya ke Baghdad untuk mengajar di Madrasah Nizamiyah (1091).[1]

            Namun pada tahun 1095, al Ghozali menderita gangguan fisik dan mental, yang sering dikaitkan dengan (diduga) kegalauan yang melanda pemikirannya; fase skeptisisme tampaknya telah mendorongnya untuk mempertimbangkan kembali seluruh pandangan dan cara hidupnya. Ia lalu menyerahkan jabatan dekannya di Nizamiyah kepada saudaranya (seorang sufi terkenal), dan menghilang di gurun pasir Suriah. Ia merasa bahwa ajarannya selama ini “terlampau memikirkan cabang – cabang pengetahuan yang tidak penting dan tidak berharga”, ia mau menyingkirkan segala “kekayaan dan jabatan”. Kenyataannya, al- Ghazali tidak menolak ilmu pengetahuan dan hukum; sebaliknya, ia berusaha mengidupkan kembali keduanya. Untuk tujuan itu ia menyusun (1096 – 1105) karya besarnya yang berjudul Ihya ‘ulum al-Din (Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama).[2]

Hirarki Pengetahuan dalam Perspektif al – Ghazali

            Kata “ Pengetahuan” (dalam bahasa Inggris Knowledge) adalah kata benda yang berasal dari kata kerja “tahu” (to know) yang semakna dengan ‘mengetahui’. Sementara itu, kata ‘ilmu’ berasal dari bahasa Arab ‘alima-ya’lamu-‘ilm yang juga berarti ‘tahu’ atau ‘ mengetahui’. Menurut bahasa kata pengetahuan bisa bermakna sama dengan ilmu.[3]

            Terma “ilmu pengetahuan” (dalam bahasa Inggris scince) sejajar dengan istilah Latin scientia, yang diturunkan dari kata dasar sciere. Menurut Henry van Laer terdapat hubungan obyektif antara istilah science dan istilah to know. Alasan yang dikemukakan adalah bahwa semua sains mencakup pengetahuan walaupun tidak setiap bentuk pengetahuan bisa dinyatakan sebagai sains. To know adalah aktivitas makluk hidup. Dengan Indranya, mereka dapat menyaksikan dan menyajikan dunia eksternal ke dalam diri (internal) mereka sendiri.

Al-Ghazali memandang pengetahuan manusia itu sesuai dengan pengetahuan mereka, sehingga al –Ghazali mengkategorikan pengetahuan dengan tiga hirarki pengetahuan. Pertama, Pengetahuan batin yang diperoleh melalui pengalaman pribadi, dan hanya dapat diperoleh melalui pengalaman pribadi, dan hanya dapat diperoleh melalui pengalaman pribadi, dan hanya dapat diperoleh oleh sedikit orang yang mendapatkannya untuk menembus kecerdasan dan pemahaman yang kuat.[4] Ilmu – ilmu yang diperoleh dengan pengalaman dengan berjalannya keadaan – keadaan. Sesungguhnya orang dididik oleh percobaan – percobaan dan dididik oleh aliran – aliran maka biasanya ia disebut sebagai orang yang berakal. [5] Kedua, pengetahuan diskursif , yaitu pengetahuan yang dikuasai oleh para filsuf, fukaha dan teolog. Ketiga, pengetahuan rakyat kebanyakan (khalayak umum), yang terserap oleh kesibukan dan pekerjaan sehari – hari, mereka hanya dapat menguasai iman atau dengan taqlid.[6]

Analisis dari hirarki pengetahuan menurut al-Ghazali ini, bahwa pengetahuan dan kapasitas mental manusia sangat berbeda mengandung berbagai pemahaman dan kenyataan tertentu yang cukup berpengaruh. Faktor yang sangat mempengaruhi pada hirarki ini adalah tingkat kepahaman, latar belakang keluarga, tingkat pendidikan, usia, pengalaman pribadi, dan bacaannya.

 


[1] Antony Black. Pemikiran Politik Islam: Dari Masa Nabi Hingga Masa Kini, Terj. Abdullah Ali (Jakarta: PT. Serambi Ilmu semesta, 2006), hlm. 190.

[2] Ibid., hlm. 191.

[3] Sutrisno. Fazlur Rahman: Kajian terhadap Metode, Epistemologi dan Sistem Pendidikan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hlm 91.

[4] Antony Black. Pemikiran Politik Islam, hlm. 195.

[5] Imam Al Ghazali. Ihya ‘Ulumiddin, Terj. Moh Zuhri (Semarang: Asy Syifa, 1990), hlm. 273.

[6] Antony Black. Pemikiran Politik Islam, hlm. 195.

Posted on March 9, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: