Mendobrak Kebekuan Pembelajaran Agama Islam

Aktivitas pendidikan dan keilmuan di sekolah umum dan sekolah yang berbasis agama Islam di tanah air mirip seperti pola kerja keilmuan awal abad renaissance hingga era revolusi informasi. Hati nurani terlepas dari akal sehat, nafsu serakah menguasai perilaku. Praktik korupsi, kolusi dan nepotisme merajalela. Lingkungan alam rusak berat. Tindakan kekerasan dan mutual distrust mewabah dimana mana. Pendidikan Islam telah kehilangan substansinya sebagai sebuah lembaga yang mengajarkan bagaimana memberdayakan akal dan pikiran. Meminjam Istilah Syed Husein Al Attas , pendidikan islam telah kehilangan “Spirit of Inquiry”. Spirit of Inquiry yaitu hilangnya semangat membaca dan meneliti yang dulu menjadi supremasi utama dunia pendidikan Islam pada zaman klasik pertengahan.

Memudarnya kecemerlangan pendidikan Islam sesungguhnya sudah terjadi sejak ratusan tahun silam. Salah satu sebab utama layunya intelektualisme Islam adalah saat dunia pendidikan islam terjadi dikotomi keilmuan; terbelahnya ilmu agama dengan ilmu dunia antara wahyu dan alam, serta dikotomi antara wahyu dan akal. Jauh sebelumnya, dalam sejarah kependidikan Islam telah terpola pengembangan keilmuan yang bercorak integralistik-ensiklopedik, yang dipelopori para ilmuwan seperti Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun.

Dengan hilangnya semangat “inquiry”, kegiataan mengajar dan belajar di sekolah-sekolah/ madrasah Islam/pesantren menjadi monoton, satu arah dan kurang mampu mengembangkan metode yang melatih dan memberdayakan kemampuan belajar peserta didik. Mereka hanya terpaku pada metode “menghafal” (rote learning), menyimak dengan seksama (Talaaqi), dan sangat kurang mengembangkan budaya diskusi, seminar, bedah kasus, problem solving, eksperimen, Observasi, dan sebagainya. Peserta dididik menjadi kurang terampil dalam meghadapi berbagai persoalan dan tantangan.  

Pembelajaran agama Islam selama ini sangat teoritis, berbada dengan mata pelajaran lain yang alat konkretisasinya lebih mudah, mata pelajaran agama bernaterikan sejumlah pengetahuan yang cenderung bersifat abstrak. Selain itu, pada pembelajaran agama Islam banyak sekali materi ajar yang sangat sulit untuk diperagakan atau dikonkretisasikan secara visual. Di sisi yang lain, dalam ketiadaan visualitas itu justru dituntut adanya kesiapan siswa untuk bisa menerimanya dengan baik.

Menyadari kondisi yang semacam ini, bahwa pembelajaran agama Islam rawan bercorak teori, sekurang-kurangnya teoritis, yang perlu dipahami dalam pembelajaran agama ialah bagaimana dengan kondisi semacam itu pembelajarannya bisa menjadi daya tarik bagi siswa. Sehingga diperlukan adanya upaya mengintegrasikan pendidikan islam dengan Ilmu-Ilmu Pengetahuan Alam maupun Ilmu-Ilmu Sosial Kontemporer. Pembelajaran Agama Islam dapat memberikan pemahaman kepada siswa dengan eksperimen atau simulasi laboratorium. Metode pembelajaran seperti ini dapat menggugah semangat pendidikan islam di Indonesia.

  1. shilla indria putri

    itu bagus, xox bisa ”DOBRAK” jha t’russssssssssssssss.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: