Christiaan Snouck Hurgronje Teori Receptie

Christiaan Snouck Hurgronje

Teori Receptie

Dalam studi Islam secara umum (terutama hukum Islam), nama Christian Snouck Hurgronje (1757-1837) jauh lebih dikenal ketimbang Van den Berg. Snouck Hurgronje dikenal luas sebagai salah seorang sarjana yang menjadikan Islam sebagai satu disiplin tersendiri di Barat. Ia juga dikenal sebagai salah seorang tokoh awal yang menjadikan hukum Islam sebagai salah satu obyek kajian di Eropah dengan pendekatan sejarah. Van Niel juga menggambarkan Snouck Hurgronje sebagai tokoh penting yang mempunyai pengetahuan cukup luas tentang Nusantara (Indonesia). Selama lebih dari tujuh belas tahun (1889-1906), ia menempati posisi penasehat khusus Pemerintah Kolonial Belanda yang sebelumnya dijabat oleh Van den Berg, yang bertugas, antara lain, memberi nasehat terkait dengan ajaran Islam dan budaya setempat. Hingga kini, nama Snouck Hurgronje tetap dikenal luas di kalangan masyarakat Indonesia, apalagi di kalangan mereka yang studi Islam Indonesia.

Salah satu yang membawa namanya dikenal luas adalah teorinya yang dikenal dengan Receptie, yang kemudian teori tersebut didukung kuat oleh dua sarjana Belanda berikutnya: Cornelis van Vollenhoven (1874-1933) dan B. Ter Haar.

Teori Receptie secara tegas berbeda (bahkan bertentangan) dengan Receptio in Complexu yang dikemukakan pendahulunya, Van den Berg. Teori tersebut menegaskan bahwa hukum Islam akan berlaku secara efektif di kalangan umat Islam jika hukum Islam tersebut sejalan dengan hukum adat di Indonesia. Dengan demikian, hukum yang berlaku di Indonesia tidak didasarkan pada ajaran agama (Islam) tetapi lebih pada hukum adat setempat.

Teori Receptie telah menjungkir balikkan teori Receptio in Complexu yang telah dikenal sebelumnya. Van Vollenhoven mendukung teori yang diajukan Snouck Hurgronje dengan mengatakan:

Satu hambatan kuat untuk mengkaji hukum adat di Indonesia adalah terdapatnya proposisi (keyakinan?) yang salah bahwa: hukum masyarakat mengikuti agama yang dianut dan setiap agama pasti mempunyai hukum. Karena itu, agama Pagan mempunyai hukum Pagan, agama Hindu mempunyai hukum Hindu, agama Islam mempunyai hukum Islam, agama Kristen mempunyai hukum Kristen, dan seterusnya. Proposisi yang sebenarnya bertolak belakang dengan kenyataan ini telah dan masih mempunyai pengaruh kuat yang amat fatal. Yang sebenarnya terjadi adalah: pengaruh hukum agama itu amat terbatas. Sebagian besar sarjana melakukan kesalahan dengan terlalu menekankan element agama dalam hukum adat, dan mencampur aduk antara ajaran agama dengan hukum adat.

Dengan menekankan pentingnya hukum adat sebagaimana yang dilakukan Snouck Hurgronje, Van Vollenhoven meneruskan penelitiannya dengan hasil yang dikenal luas berupa terdapatnya sembilan belas macam hukum adat di Indonesia.

Menurut Sajuti Thalib, transisi dari teori Receptio in Complexu ke arah teori Receptie berlangsung cukup lama, dan selama masa transisi tersebut Pemerintah Kolonial Belanda telah memberlakukan sejumlah aturan. Setelah melalui proses panjang dengan sejumlah aturan tersebut, pada akhirnya dikeluarkanlah Stbl. Nomor 221 tahun 1929, pasal 134 (2) Wet op de Staatsinrinchting van Ned. Indie (IS) yang kemudian dikenal sebagai sumber formal diberlakukannya teori Receptie yang diajukan oleh Snouck Hurgronje.

(Sumber : Materi Mata Kuliah Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga bersama Instructor: Prof. Drs. H. Akh. Minhaji, M.A., Ph.D. )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: