DIALEKTIKA HADITH DAN SUNNAH

DIALEKTIKA HADITH DAN SUNNAH

Dari Hadith ke Sunnah. Al-Qur’an merupakan sumber pokok ajaran Islam yang menjadi petunjuk bagi umat Islam dalam mengarungi hidup di dunia maupun di akhirat. Sebagai petunjuk, al-Qur’an harus mampu dipahami dan dirumuskan serta diimplimentasikan sesuai dengan tempat dan waktu yang mengitari. Upaya itulah yang kemudian dilakukan oleh Rasulullah SAW semasa hidupnya yang kemudian melahirkan apa yang dikenal dengan istilah hadith (qauluhu, wa-fi’luhu, wa-taqriruhu: perkataan, perbuatan, dan ijinnya). Sebagai realisasi kongkrit ajaran al-Qur’an, hadith kemudian menjadi pedoman dan aturan bagi umat Islam pada waktu itu. Dalam perjalanan selanjutnya, hadith kemudian melahirkan kebiasaan, tradisi, budaya, dan sekaligus peradaban, dan semua itu merupakan respon positif dan kretaif umat Islam terhadap hadith berdasarkan situasi dan kondisi yang melingkupinya. Respon kreaitif ini kemudian melahirkan apa yang kemudian dikenal dengan sunnah, living-tradition, atau sesuatu yang hidup, berjalan, dan berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Dengan kata lain, hadith merupakan pernyataan verbal yang disampaikan Rasulullah kepada umatnya sebagai upaya menerjemahkan ajaran al-Qur’an sesuai dengan kondisi waktu itu, sedangkan sunnah merupakan positivisasi dan implementasi hadith sekaligus respon kreatif umat Islam terhadap hadith berdasarkan perkembangan yang terjadi.

Dari Sunnah ke Hadith. Pada masa formalisasi, sistematisasi, dan pembukuan ajaran Islam (`ashrut-tadwin) sekitar akhir abad ke-2 hijrah, salah satu upaya yang dilakukan umat Islam adalah merekonstruksi, menulis, dan sekaligus membukukan segala yang terkait dengan Rasulullah (hadith). Rekonstruksi ini dilakukan berdasarkan sunnah yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Hasilnya berupa rumusan verbal hadith-hadith Rasulullah yang dibukukan, diantara yang amat dikenal adalah kutub al-sittah (seperti shahih al-bukhari, shahih al-muslim, dst). Dalam konteks demikian, secara verbal hadith yang dihasilkan dalam proses rekonstruksi berdasarkan sunnah ini bisa berbeda dengan hadith yang betul-betul berasal dari Rasulullah, tetapi kandungan keduanya adalah sama. Bisa berbeda formulasi tetapi sama esensi.

Dari Hadith ke Sunnah. Pada masa-masa setelah `ashrut-tadwin (termasuk masa kita saat ini), yang perlu dilakukan adalah respon kreatif umat Islam terhadap hadith-hadith yang telah dibukukan dalam kutub al-sittah, dengan cara memahami, memaknai, dan mengimplementasikan sesuai dengan tuntutan tempat dan masa masing-masing umat. Respon kreatif ini sekaligus mendorong setiap umat pada tempat dan masa tertentu untuk mampu membangun sunnah-nya masing-masing sesuai dengan situasi dan kondisinya. Hal ini menuntut umat Islam untuk tidak terpaku dengan ungkapan verbal dan formal dari hadith tetapi lebih menekankan makna, esensi, dan tujuan yang terkandung di dalam hadith, mungkin dalam bahasa al-Syathibi dikenal dengan maqashid al-syari’ah. Dengan cara demikian, Islam akan betul-betul menjadi agama yang bermakna bagi kehidupan umat manusia sepanjang masa (al-islam shalih likulli zaman wa-makan) dan akan mampu memancarkan kesejahteraan jasmani sekaligus rokhani untuk semua umat manusia (rahmatan lil-alamin).

PROBEM OF TERMINOLOGY

As-Sunnah dimaknai sebagai living tradition, yakni tradisi atau kebiasaan yang hidup di tengah-tengah masyarakat, dan bisa pula disebut dengan local tradition. Dalam kitab-kitab fiqh terdapat sejumlah istilah lain yang mengandung pengertian tersendiri tetapi seringkali sejalan dengan makna as-sunnah, antara lain: al-`adah, al-`urf, syar`u man-qablana, dan al-mashlahah al-mursalah.

Sebagian ulama membedakan antara al-`adah dengan al-`urf: Al-`adah adalah tradisi atau kebiasaan yang bisa dipandang baik atau tidak, sedangkan al-`urf adalah tradisi atau kebiasaan yang pasti baik; karena itu, yang menjadi sumber hukum adalah al-`urf dan bukan al-`adah.

Berdasarkan al-Qur’an (Ali Imran: 104) al-`urf dibedakan dengan al-khayr. Al-khayr adalah kebaikan normatif-universal sedangkan al-`urf kebenaran historis. Lain lagi dengan syar’u man-qablana, yakni satu istilah yang lebih menunjuk kepada tradisi atau kebiasaan yang terdapat pada masyarakat dan/atau agama yang ada sebelumnya. Tradisi tersebut tidak serta-merta harus dihapus tetapi perlu diseleksi secara cerdas dan kreatif dengan memilah dan memilih hal-hal yang bisa diteruskan dan hal-hal yang tidak bisa diteruskan. Al-maslahah al-mursalah adalah sesuatu atau perbuatan yang dipandang mendatangkan manfaat bagi masyarakat tetapi tidak secara eksplisit disebut dalam al-Qur’an, dan yang demikian bisa menjadi dasar kebolehan (mubah, halal) untuk diterimanya sesuatu atau perbuatan. Sebagian bahkan mengatakan bahwa al-mashlahah al-mursalah bisa menjadi sumber hukum mandiri (mashdarun mustaqil, independent source).

Semua istilah dan sesuatu atau perbuatan yang masuk ke dalam diskusi di atas seringkali menjadi penting dalam upaya pengembangan masa depan umat Islam, dan hal itu seringkali masuk pada diskursus al-turath wat-tajdid (continuity and change). Diskursus ini akan sangat mewarnai kaku-tidaknya atau fleksibel-tidaknya pandangan seseorang atau suatu kelompok umat. Atas dasar ini, sikap yang perlu diambil bukan saling menghadapkan, apalagi membenturkan, antara hukum Islam pada satu sisi dengan hukum adat pada sisi lain, tetapi mendialogkan dan mendialektikakan antara keduanya, dan inilah makna terdalam dari maksim: al-muhafadhah alal-qadim al-shalih, wal-ahdu bil-jadid al-ashlah (memelihara yang lama yang masih baik, dan mengambil yang baru yang lebih baik).

Dalam bentuk lebih umum dan abstrak, hal-hal di atas masuk pada diskursus global dan non-global ethics, plural-singular culture and civilization, great-lower traditrion, local-indigenous, kearifan-local, yang sekaligus menekankan makna penting dari tradisi lokal (local-traditon).

(Sumber ; Materi Mata Kuliah Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Bersama  Instructor: Prof. Drs. H. Akh. Minhaji, M.A., Ph.D. )

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: