Respon Terhadap Teori Van den Berg dan Snouck Hurgronje

Respon Terhadap Teori

Van den Berg dan Snouck Hurgronje

Hamid Algadri dalam karyanya Politik Belanda terhadap Islam dan Keturunan Arab di Indonesia:  mendukung pandangan dan sikap Van den Berg terhadap Islam dan sekaligus menuduh Snouck Hurgronje telah melakukan upaya sistematis untuk membatasi bahkan menghambat perkembangan Islam di Indonesia. Lebih lanjut Algadri mengatakan, dalam rangka mendukung pandangan dan sikapnya terhadap Islam tersebut, Snouck Hurgronje minta Penguasa Belanda untuk mengirim sejumlah mahasiswa Indonesia untuk belajar di Leiden dalam rangka membuat mereka tidak fanatik terhadap Islam.

Dapat dipastikan, sejumlah sarjana Indonesia telah mengajukan respon terhadap teori yang dikemukakan oleh Van den Berg dan juga Snouck Hurgronje. Respon inipun juga dirumuskan dalam bentuk teori.

Hazairin (1906-1975) menentang pemikiran Snouck Hurgronje melalui teorinya Receptie Exit dan menyebut teori Receptie-nya Hurgronje sebagai teori setan yang menyesatkan karena bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Berdasarkan sila pertama Pancasila dan pasal 29 UUD 1945: segala aturan dan hukum yang berlaku di Indonesia harus didasarkan pada keyakinan agama yang dianut bangsa Indonesia. Karena itu, hukum yang berlaku bagi umat Islam adalah hukum Islam. Teori Snouck Hurgronje bertentangan dengan prinsip-prinsip yang ada dalam al-Qur’an dan Hadis Nabi.

Teori Hazairin dikembangkan oleh muridnya Sajuti Thalib melalui teorinya Receptie a Contrario: setelah kemerdekaan Republik Indonesia, hukum kolonial tidak berlaku lagi bagi bangsa Indonesia, dan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 hukum yang berlaku bagi bangsa Indonesia adalah hukum yang berasal dari ajaran agama yang dianutnya. Sebagai konsekuensinya, hukum adat bisa digunakan oleh umat Islam sejauh hukum adat tersebut tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip yang ada dalam ajaran Islam. Hal demikian didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan di Jakarta, Aceh, dan Minangkabau yang menyatakan bahwa, penduduk setempat meyakini bahwa hukum yang berlaku bagi mereka adalah hukum Islam, dan hukum adat diterima sejauh tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran hukum Islam.

Teori yang diajukan Sajuti Thalib telah menjungkir-balikkan teori yang diajukan Snouck Hurgronje. Nama teori itu sendiri menunjukkan kearah penjungkir-balikan itu.

Barangkali dapat disimpulkan: tidak ada perbedaan fundamental antara teori yang dikemukakan Van den Berg di satu pihak dengan teori yang diajukan Hazairin dan Sajuti Thalib di pihak lain. Pada waktu yang sama dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara teori yang dikemukkan Snouck Hurgronje dengan teori yang diajukan oleh Hazairin dan Sajuti Thalib.

Pertanyaan yang muncul: sejauh mana perbedaan antara teori Snouck Hurgronje di satu pihak dengan teori Hazairin dan Sajuti Thalib di pihak lain? Sebab sebagian orang bisa berpendapat bahwa keduanya itu berbeda secara tegas pada dataran teori tetapi tidak pada level praktik. Dalam praktik, sebagian besar (jika tidak semua umat Islam) mengakui bahwa hukum adat berperan besar dalam rumusan dan juga praktik hukum Islam. Hal ini didukung oleh kenyataan bahwa terdapat sejumlah ketentuan hukum Islam yang tidak mudah (bahkan tidak mungkin) dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari umat Islam karena ketentuan tersebut tidak sejalan dengan hukum adat setempat. Di dalam kitab-kitab fiqh standar terdapat prinsip: al-`adah muhakkamah (adat bisa menjadi hukum). Bahkan secara umum dimaklumi bahwa diantara sumber hukum Islam itu adalah: al-`urf, al-`adah, syar`u man-qablana., dan juga al-mashlahah al-mursalah. Ringkasnya, tradisi atau adat berperan besar dalam rumusan dan juga praktik hukum Islam.

Kita ambil contoh yang terkait dengan pemikiran Hazairin yang menentang keras pikiran Snouck Hurgronje. Diketahui secara luas bahwa Hazairin memberi perhatian serius menyangkut hubungan dan keterkaitan antara hukum Islam dengan hukum adat. Pengetahuannya tentang antropologi telah menyebabkan dirinya mampu mengkaji hukum Islam secara baik, terutama dalam hukum kewarisan Islam. Hazairin berjuang keras untuk membangun teori dan pemikiran hukum Islam yang dipandang sesuai dan layak untuk bisa dijalankan oleh umat Islam Indonesia. Secara tegas Hazairin menyatakan, terdapat sejumlah ketentuan hukum Islam yang diberlakukan di Indonesia didasarkan pada pandangan-pandangan yang dirumuskan oleh para fuqaha’ masa lalu yang sebenarnya banyak dipengaruhi oleh tradisi dan budaya Arab. Seharusnya, menurut Hazairin, umat Islam Indonesia mencoba memahami ajaran-ajaran hukum Islam tersebut berdasarkan tradisi dan budayanya sendiri, yakni tradisi dan budaya Indonesia. Pikirannya ini telah mendorong dirinya untuk mengajukan apa yang ia sebut Mazhab Indonesia atau sering pula dikenal sebagai Mazhab Nasional, yang ia perjuangkan sejak tahun 1950-an.

Berdasarkan pemikirannya tersebut, Hazairin kemudian mengajukan sejumlah contoh ketentuan hukum Islam yang perlu dipikirkan kembali oleh umat Islam Indonesia. Salah satunya terkait dengan ketentuan wali dalam akad nikah. Ketentuan yang dijalankan di Indonesia lebih didasarkan pada tradisi dan budaya Arab melalui sistem ashabah. Sistem ashabah ini secara tegas menempatkan posisi dan status laki-laki lebih “tinggi” dari wanita. Ketentuan ini sangat cocok bagi masyarakat Arab yang sistem kekeluargaanya bersifat patrilinial. Namun amat berbeda dengan struktur sosial bangsa Indonesia yang mengenal tiga macam sistem keluarga: patrilinial, matrilinial, dan parental.

Salah satu kesimpulan penting dari pemikiran Hazairin adalah: ketentuan hukum Islam yang didasarkan pada tradisi dan budaya Arab tidak selalu cocok untuk diimplementasikan di Indonesia.

Dapat disimpulkan: walaupun Hazairin menentang keras teori yang diajukan Snouck Hurgronje, ia secara tegas menekankan pentingnya tradisi dan budaya setempat serta posisi hukum adat dalam kaitannya dengan pemikiran dan implementasi hukum Islam di Indonesia.

Perbedaan antara teori yang diajukan Snouck Hurgronje pada satu sisi dan teori yang diajukan Hazairin (dan Sajuti Thalib) pada sisi lain hanyalah pada dataran teori dan tidak pada level praktik. Hal ini terjadi barangkali karena Snouck Hurgronje menggunakan pendekatan ilmiyah (scientific approach/historical approach), sebuah pendekatan yang lazim digunakan di Barat.

Hazairin nampaknya lebih komplek untuk dijelaskan. Pada satu sisi, Hazairin sangat menekankan pendekatan normatif (normative approach) dalam melihat pemikiran dan implementasi hukum Islam di Indonesia. Berdasarkan pendekatan ini, maka umat Islam (di manapun dan kapanpun) harus menjadikan hukum Islam sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Yang demikian ini seringkali pula disebut dengan pendekatan teologis (theological approach). Pada waktu yang sama, Hazairin menggunakan scientific apparoach (antropologi) sebagaimana dipelajari selama ia kuliah di Perguruan Tinggi Barat (Belanda). Dengan menggunakan pendekatan yang kedua ini, Hazairin mendapatkan realitas kongkrit di masyarakat bahwa terasa amat sulit (untuk tidak mengatakan tidak mungkin) untuk memberlakukan ketentuan hukum yang berbeda, apalagi bertentangan, dengan tradisi dan budaya Indonesia, apalagi jika ketentuan hukum Islam tersebut lebih didasarkan pada tradisi dan budaya lain, yakni tradisi dan budaya Arab.

Problem yang terdapat pada diri Hazairin tidak jarang dialami oleh sejumlah sarajana Islam lainnya. Mereka sering dihadapkan pada kenyataan bahwa dalam setiap penelitian yang dilakukan sulit untuk dipisahkan antara keyakinan keagamaan dan kebenaran ilmiyah. Secara metodologis, seringkali terasa sulit menerapkan dua model pendekatan berikut secara sekaligus: teologis-normatif-deduktif (ilahiyyah, theocentris, subjective-theological-transcendentalism) dan empiris-induktif (insaniyyah, anthropocentris, rational-empirical-justification).

(Sumber : Materi Mata Kuliah Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bersama Instructor: Prof. Drs. H. Akh. Minhaji, M.A., Ph.D. )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: